NEMKU.......... :)

Nemku… Oh Nemku…
Karya Ayu Bela Agustine

29 Maret  2010 adalah hari yang sangat menegangkan bagiku, karena mulai hari itu hingga tanggal 1 April adalah pelaksanaan  Ujian Nasional tingkat SMP. Rasa takut dan gugup menghiasi  hatiku saat itu. Pelaksanaan Ujian hari pertama adalah Bahasa Indonesia, pelajaran yang tidak terlalu sulit tetepi juga tidak bsa diremehkan. Di hari pertama itu aku  datang ke ruang kelas 5 menit setelah LJK dibagikan Pengawas, untung saja aku masih dibolehkan mengikuti Ujian. Aku mengerjakan semua soal semampuku tanpa melihat jawaban dari manapun. Hari pertama Ujian ku lewati dengan perasaan harap-harap cemas, semoga saja apa yan kuharapakan bisa terwujud.
            Hari kedua aku tiba di sekolah  pas bel tanda masuk berbunyi. Kali ini yang diUjiankan mata pelajaran Matematika. Ini  adalah salah satu pelajaran yang aku minati di sekolah, jadi aku mengerjakannya dengan sangat teliti dan sungguh-sungguh tanpa mencontek. Kulihat kini sudah banyak temanku yang mengandalkan jawaban bocoran yang entah darimana asalnya.
            Hari ke tiga datang juga kali ini aku datang 15 menit sebelum bel tanda masuk berbuyi. Dari pakriran motor ku lihat banyak sekali anak-anak yang sedang mengantri untuk menyalin bocoran jawaban. Aku sangat sedih dan prihatin sama mereka, apalagi beberapa orang dari mereka adalah sahabatku sendiri. Aku masih mencoba untuk jujr terhadap diriku sendiri, aku memilih tidak mencontek. Setelah bel tanda masuk berbunyi, LJK dibagikan. Hari ini yang diujiankan adalah pelajaran Bahasa Inggris.
            Hari terakhirpun datang juga, rasa gugup dan takut yang kemarin sangat menyiksa batinku kini berkurang sudah. Aku tiba di sekolah 20 menit sebelum bel tanda masuk dibunyikan, karena waktunya masih cukup lama ku sempatkan untuk membaca buku dan bercanda dengan teman-temanku, mereka adalah Destini J.P , Deasy, Glory Goldameyr, dan Glori Elisabet. Kami bercanda untuk meringankan sedikit beban yang sedang kami pikul bersama. Pelajaran di hari teakhir ini adalah IPA.
            Keputusanku untuk tidak mencuntek saat Ujian Nasonal benar-benar sudah bulat. Walaupun banyak temanku yang memilih mengambil bocoran jawaban, aku tetap teguh pada pendirianku itu. Ya. Mungkin terlalu munafik, tapi meurutku itulah yang terbaik. Aku yakin pasti Tuhan akan kasih hasil yang terbaik bila kita selalu berusaha dan berdoa pada-Nya.
Hari-hari setelah Ujian Nasional kulewati dangan perasaan yang campur aduk, ada senang, khawatir dan takut akan hasil nem yang kurang memuaskan. Ya. Tapi aku sudah tidak bisa melakukan apapun aku hanya bisa berdoa dan berharap hasil yang akan keluar nanti adalah hasil terbaik, walupun tidak seperti yang aku harapkan.
7 Mei 2010 surat edaran tentang hasil lulus/tidaknya dibagikan. Aku menantikan surat itu berharap hasilnya tidak mengecewakan. Sialnya Pak de jemputan yang mengantarkan suratku tidak bisa menemukan alamat rumahku karena memang alamat itu salah. Aku menantikan surat itu hingga jam 2 pagi. Setelah kelelahan akupun tertidur.
Surat itu tetap belum sampai ke tanganku sampai tanggal 10 Mei, aku dan ibuku berinisiatif untuk datang ke sekolah melihat langsung apakh aku benar-benar lulus atau tidak. Inisiatifku  itu benar, di sekolah sudah banyak siswa yang ingin mengetahui hasil Ujian Nasional mereka. Sesampainya di sekolah, Pak de menghampiriku dan memberikan surat itu, dia minta maaf karena tidak bisa mengantarkan surat itu tepat waktu. Setelah aku buka amplopnya ternyata bertuliskan “LULUS…” aku senang sekali. Akupun langsung masuk ke dalam sekolahku dan mencari bu Yani, wali kelasku. Aku memintanya untuk menunjukan berapa nemku,
“Yu, kamu Cuma dapat nem segini”, kata bu Yani sambil menunjukan hasil nemku.
Bukan mainnya aku dan ibuku terkejut, ternyata nemku hanya berjumlah 34,80. Lebih rendah daru teman-temanku yang mencontek. Aku sangat kecewa pada diriku sendiri. Aku marah, aku kecewa dan aku sangat terpukul atas hasilku yang sangat minm itu.
“Ya Tuhan, Aku sudah berusaha jujur dengan kemampuanku. Aku tidak mencontek, tapi kenapa hasil yang kudapatan jauh lebih rendah dari mereka yang sam sekali tidak jujur. Kenapa nemku Cuma segitu. 34,80.. sekarang aku harus gimana ya Tuhan? Pasti aku akan sulit keterima di sekolah-sekolah yang bagus (berkualitas). Bantu aku ya Tuhan..” itulah doa yang kupanjatkan setiap malam.
Hampir setiap hari ibuku berkata, “Ah, Ayu coba kalau waktu itu kamu ambil saja bocoran jawaban itu. Pasti nem kamu nggak akan sejatoh ini.” Kata-kata ibu semakin buatku kecewa terhadap diriku sendiri. Untung saja Ayah selalu membelaku dan selalu menyemamngatiku saat ibu berkata seperti itu padaku.
Karena takut aku tidak bisa melanjutkan ke sekolah negeri berkualitas di Bekasi, aku bilang ke ayah dan ibu kalau aku ingin masuk ke SMA Negeri 89 yang ada di Kayu Tinggi. Jakarta Timur. Aku beralasan karena selain bagus, peluang PMDK di SMA itu lumayan tinggi. Awalnya ayah sangat melarangku sekolah disana dengan banyak alasan, tapi ibu mau membantuku. Kami melakukan survei langsung ke SMA itu. Ibu bersedia bolak-balik kantor Dinas Pendidikan kota Bekasi untuk mengurusi surat pindah rayonku ke Jakarta. Tak lupa kami juga melakukan survei ke beberapa SMA yang ada di Bekasi seperti SMAN 4, SMAN 10, dll. Lucunya lagi karena takut tidak keterima di sekolah yang ada di Jakarta dab Bekasi, ibu juga berinisiatif untuk menyekolahkanku di Indramayu, kampung halamanku. Nanti disana aku akan tinggal bersama Bude Sri dan Pak de Jono.
Mungkin ide itu terlalu berlebihan, sehingga Tuhan mengagalkan semuanya. Tanggal 28-30 Juni 2010 PPDB kota Bekasi dimulai. Di hari pertana, aku kehabisan formulir pendaftaran.
“Huh.. sudah lama nungguin formulirnya, eh malah ke habisan… KESELL..”
Tapi aku tak menyesalinya karena saat aku ngantri formulirnya aku bertemu dengan teman Sdku namanya Kristian Briantama dan juga mantan guruku, ibunya Brian namanya bu Yuli. Bu Yuli bercerita banyak tentang massa SMP Brian katanya sekolah di SMP swasta itu berat karena selain berat di uang sekolahnya, tugas dn ulanganpun menumpuk. Makanya sekarang ia memilih untuk menyekolahkan Brian di SMA Negeri “biar Brian bisa bersaing.” Katanya.
Aku terpaksa mengantri formulir lagi di hari kedua ini, kali ini aku datang lebih pagi bersama ibuku. Baru sampai di depan gerbang SMAN 10 Bekasi sudah terlihat antrian yang cukup panjang padahal pembukaan pendaftaran masih 1.5 jam lagi. Aku dan ibu ikut mengantri, sayangnya pada saat ibu mendapat formulir, aku sedang berada di SMPN 19, sekolahku karena ada pembagian SKHUN. Walaupun jarak dari sekolahku ke SMAN 10 sangat dekat tetap saja bila harus bolak-balik pasti capek. Makanya formulirku itu diisi oleh ibu dengan tulisan seadanya. Setelah aku selesai mengambil SKHUN, aku langsung berlari menuju SMAN 10 dan menandatangani berkas formulir yang sudah diisi ibuku.
Aku terus memantau posisiku di urutan PPDB SMA Negeri 4 Bekasi, aku berharap aku bias keterima dan menjadi siswi SMA itu. Puji Tuhan doaku dijawab oleh Tuhan, aku keterima di SMA itu dengan peringkat ke-269 dari 270 orang yang diterima. Aku sangat bersyukur dan berterimakasih pada Tuhan karena Ia telah menunjukan kuasanya padaku di dalam kelemahanku..


TERIMAKASIH TUHAN…….  J


Komentar