pidato

PIDATO Bahasa Indonesia
Selamat siang, salam sejahtera bagi kita semua.
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan perlindunganNya kita dapat berkumpul di temapat ini dengan sehat tanpa kekurangan suatu apapun.
Yang  terhormat Ibu Susilowati sebagai Guru Bahasa Indonesia dan teman-teman kelas XII IPA 1 yang saya cintai. Pada kesempatan kali ini saya akan memberikan pidato penyuluhan mengenai pentingnya mendengarkan.
Didengarkan merupakan kebutuhan penting bagi setiap manusia. Didengarkan bagaikan kebutuhan kita akan udara. Semua orang ingin didengarkan, namun sulit sekali mencari orang yang mau mendengarkan.
Teman-teman yang saya cintai, banyak masalah dalam sebuah hubungan yang berakar dari kurangnya kemauan untuk mendengarkan. Contoh, sebagai rakyat kita juga punya masalah dengan pemerintah karena merasa kurang didengarkan, kurang dipertahikan dan kurang dipedulikan. Begitu juga masalah dalam keluarga, banyak orang tua yang kerap berkata begini, “Saya tidak mengerti mengapa anak saya tidak mu mendengarkan saya”. Padahal bukankah untuk bisa mengerti apa keinginan si anak,justru orang tua yang yang harus memulainya dengan mendengarkan keinginan si anak? Masalah tidak didengarkan ini merupakan masalah terbesar dalam hubungan antarmanusia.
Teman-teman yang saya banggakan, ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang profesor di Harvard Bussiness School. Pofesor ini membuka kelas pelatihan public speaking dan kelas pelatihan untuk mendengar. Kelas public speakingnya dibanjiri oleh banyak peminat, namun ironis kelas mendengakannya justru sangat sepi peminat. Hal yang sangat beratolak belakang. Bahkan saat ini lebih banyak sekolah ilmu komunikasi yang hanya mengajarkan cara bicara, bukan cara mendengarkan.
Dari fakta kecil tadi merupakan indikasi betapa orang menganggap hal yang penting dalam komunikasi hanyalah berbicara. Padahal berbagai masalah yang hadir bukan karena kita tidak mampu bicara tapi karena kita terlalu banyak bicara dan tidak mau mendengarkan orang lain.
Teman-teman yang saya hormati, saya juga menemukan beberapa alas an mengapa sulit sekali untuk mendengarkan. Yang pertama, banyak orang yang tidak sadar bahwa mereka gagal mendengarkan orang lain. Mereka terlalu GEER atau overvalue menilai diri sendiri lebih tinggi dari penilaian orang lain. Yang kedua, banyak orang merasa sudah tau jawabannya atau sudah pernah mengalami hal-hal serupa sehingga merasa sudah sangat paham, tidak perlu mendengarkan lagi. Yang ketiga, kita beranggapan kalau mendengarkan bisa dilakukan sambil lalu, sambil mengerjakan sesuatu yang lain. Padahal mendengakan butuh konsentrasi penuh. Serta yang terakhir adalah kita sifat manusiawi yang ingin didengarkan, dimengerti dan diperhatikan ini yang membuat kia tidaksabar dalam hal mendengarkan.
Inilah tantangan dalam mendengarkan yaitu kita harus berjuang menahan hasrat bicara dari dalam diri sendiri dan bagimana membuat diri kita benar-benar tertarik pada subjek yang sedang dibicarakan oleh lawan bicara kita.
Dari ulasan tadi saya menarik kesimpulan  bahwa kita perlu dua kali mendengar sebelum bicara satu kali. Bahkan Tuhan sudah menciptakan dua telinga kita dalam posisi terbuka dan mulut kita dalam posisi tertutup. Jadi kita harus lebih banyak membuka telinga kita dan lebih banyak menutup mulut.
Teman-teman sekalian, semoga apa yang telah saya sampaikan tadi bisa bermanfaat bagi kita semua yang ada disini. Saya berharap dengan adanya penyuluhan ini kita semua mulai belajar untuk mendengarkan orang lain dan dapat membuka wawasan kita akan hal sepele yang justru memegang peran penting. Terima kasih atas perhatiannya. Sekian dan selamat siang.


Komentar