HUJAN
-->
HUJAN
Karya Ayu Bela Agustine
HUJAN
Awan sudah gelap, bahkan sesekali terdengar bunyi gemuruh.
“wah, aku harus cepat sampai ke rumah Eyang,” kataku dalam hati. Ku kayuh sepeda tuaku makin cepat, tanpa peduli orang berkata apa. Akupun tiba di rumah Eyang sesaat sebelum hujan turun. Dari kamar, aku mendengar Eyang memanggilku
“uhuk-uhuk.. Alika.. Alika..”
“Iya Eyang, ada apa?”
”Kok kamu sudah pulang Ndok?” tanya Eyang.
“Tadi ada rapat guru mendadak Eyang. Biasalah membahas UN.”
“Belajar yang benar ya Alika, kan sebentar lagi kamu akan menghadapi UN.”
“Iya Eyang, pasti Alika akan belajar sungguh-sungguh”
“uhuk-uhuk.. Alika tolong kamu ambilkan kotak kayu di atas lemari itu”
Tanpa pikir panjang aku langsung mengambilnya.
“Coba kamu buka kotak itu Ndok.”
Di dalam kotak itu aku melihat ada sebuah liontin biru berbentuk hati.
“Ndok, kamu pakai terus liontin itu. Apapun yang terjadi jangan pernah menjualnya. ”
“Emang ini punya siapa Eyang?”
“Ini milik ibumu. Nanti setelah kamu lulus SMA cari ibumu dengan liontin ini”
Setelah itu tiba-tiba saja Eyang batuk dan muntah darah. Aku panik, tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun karena saat itu hujan turun deras sekali. Ditambah lagi obat TBC yang biasa diminum Eyang sudah habis sejak 3 hari yang lalu.
“Alika cucuku.. Eyang sudah tak sanggup lagi. Kamu harus jadi orang yang berhasil Ndok, jaga dirimu baik-baik dan jangan lupa berdoa.” Pasan Eyang. Beberapa saat kemudian Eyang menghembuskan nafas terakhirnya, Eyang meninggal.
Esoknya, pak Pendeta Yoel beserta para jemaat gereja dan tetangga-tetanggaku datang untuk melayat Eyang.
“Alika, kamu yang sabar ya nak. Bapak yakin kamu pasti bisa melewati ini semua. Kalau ada masalah jangan sungkan datang ke rumah saya. Pintu rumah saya akan selalu terbuka untukmu.”
“Iya terimakasih pak.” Jawabku.
4 Bulan setelah kematian Eyang aku menghadapi Ujian Nasional tingkat SMA. Aku mengerjakan semua soal dengan sungguh-sungguh. Uashaku tidak sia-sia, ternyata nilai hasil Ujian Nasionalku tertinggi se-Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Aku senang sekali tak lupa aku memberikan sebuah persembahan khusus untuk Tuhan.
Banyak tawaran PMDK yang menghampiriku mulai dari Universitas di Yogya, tempat asalku hingga dari Jakarta. Dan aku memilih PMDK dari Universitas Indonesia fakultas kedokteran.
Hari ini adalah hari pertamaku masuk kuliah. Rasa senang dan bangga bercampur aduk di ahtiku saat ini. Sebelum aku berangkat aku berdoa pada Tuhan berharap hari ini berjalan lancar seperti yang diharapkan. Tapi baru saja aku keluar dari kamar kost, langit sudah gelap sepertinya akan turun hujan. Aku mempercepat langkahku mencari kendaraan umum.
Di perjalanan aku melihat seorang wanita paruh baya yang tasnya mau dijambret. Tanpa berfikir lagi aku langsung menolongnya. Akupun berhasil mendapatkan tas itu kembali.
“Terimakasih nak, kalau tidak ada kamu pasti tas saya sudah dijambret.”
“Iya sama-sama bu”
“Namamu siapa nak? Kamu bisa panggil saya Bu Tira”
Sambil tersenyum aku menjawab,”Nama saya Alika, bu.”
Tiba-tiba bu Tira mengeluarkan uang Rp 50.000 dan memberikannya padaku. Aku langsung menolaknya dan berkata, “Terimakasih bu, tapi saya tidak bisa menerimanya. Saya ikhlas menolong ibu.” Aku kembali melanjutkan perjalanan.
Aku tiba di kampus saat hujan mulai turun. Untung saja sebelum berangkat tadi aku sudah membawa payung, jadi aku tidak kehujanan. Segera kucari ruang kelasku dan mulai belajar. Di kelasku ada seorang cowok yang menawan hatiku, namanya Aldo Kristianto. Tubuhnya tinggi dan tegap, berkulit sawo matang, alis tebal dan berkacamata. Tapi yang paling kusuka darinya adalah senyumannya yang manis dan rupawan.
Aku tak mengerti kenapa sikap Aldo padaku sangat berbeda dengan cewek-cewek lain di kampus. Aldo selalu cerewet dan suka marah-marah nggak jelas padaku walaupun kesalahan yang kulakukan adalah kesalahan yang sepele. Karena itulah aku menjadi lebih dekat dengannya. Tak jarang Aldo menelponku hanya untuk menanyakan keadaanku. Sebenarnya aku sangat senang tapi setelah kupikir lagi, tak mungkin Aldo menyukaiku.
Tak terasa 1 semester kuliah telah ku lewati, saatnya liburan. Aku memilih kembali ke Yogya untuk ziarah ke makam Eyang. 2 minggu liburan di Yogya membuat pikiranku segar kembali. Akhirnya aku kembali ke Jakarta karena mulai minggu depan kuliah semester baru akan kembali dimulai.
“Ehmm.. kemana ajah kamu? Liburan kok sulit banget dihubungin kenapa? Sibuk?”
“Suara itu pasti Aldo.” Celetukku dalam hati.
“ Woii.. Alika sekarang sombong banget yah, ditanya bukannya jawab malah diem ajah.”
“Eh.. Aldo, ada apa do? Masih sore udah marah-marah nggak jelas. Cepet tua lho.”
“Gimana aku nggak marah, selama 2 minggu liburan kamu ngilang nggak ada kabar. Emang kamu kemana ajah?”
“Lha? Itukan urusanku do, kenapa jadi kamu yang senewen? Hayoo.. jangan- jangan kamu..”
Segera Aldo memotong omonganku dan berkata, ”Apa? Kamu mau bilang kalau aku takut kehilanganmu atau kamu mau bilang kalau aku suka sama kamu? Ihh sorry deh.”
“Oh, ya sudah.”
Tiba-tiba Aldo berkata,”Alika liontinmu bagus deh, beli dimana?”
“Bukan aku yang beli liontin ini. Liontin ini pemberian dari mendiang Eyangku. Udah dulu yah, masih banyak tugas yang harus kuselesaikan. Dah, Aldo.”
Pertanyaan Aldo tadi mengingatkanku pada pesan mendiang Eyang untuk mencari ibuku. Aku berlari ke taman sambil menangis. Tak kusangka bu Tira, orang yang dulu pernah ku tolong memperhatikanku dari tadi. Ia menghampiriku dan berkata,
“Alika.. kamu kenapa nak?”
Mendengar suara itu aku terkejut dan langsung mengusap airmataku
“Aku tidak apa-apa bu.”
“Benar kamu tidak apa-apa, tadi ibu lihat kamu sedang menangis. Sudahlah cerita saja, kamu kenapa?”
“Aku hanya teringat akan pesan mendiang Eyang padaku untuk mencari ibuku. Beliau berkata bahwa aku harus tetap memakai liontin ini untuk memudahkanku mencarinya.”
“Seperti apa liontin itu nak?”
“Ini.” Aku langsung menunjukan liontin itu padanya.
Mendadak kurasakan rintik-rintik hujan turun. Aku diajak bu Tira untuk berteduh di sebuah kedai kecil di depan kampus.
“Ini liontinku, bu.” Aku kembali menunjukannya pada bu Tira.
Bu Tira hanya terdiam saat aku menunjukan liontinku. Duerr... suara gemuruh petir memecah keheningan sore ini. Tiba-tiba saja wanita paruh baya itu meneteskan airmata dan langsung memelukku sambil berkata, ”anakku”. Aku sangat terkejut dan berusaha melepaskan pelukannya.
“Alika.. kamu anak ibu nak. Anak kandung ibu yang dulu ibu tinggalkan. Maafkan ibu nak.”
Kata-kata bu Tira membuatku sangat terkejut, aku berlari keluar kedai sambil menangis.
“Alika.. tunggu ibu nak..”
Bu Tira ikut berlari keluar kedai tanpa peduli hujan deras yang sedang turun mampu membuatnya sakit.
Aku tiba di kostanku sekitar jam 7 malam. Setelah mandi dan menenangkan diri tiba-tiba handphoneku berdering, Aldo menelponku.
“Halo ada apa do?”
“Nggak ada apa-apa kok, iseng doang. Kenapa? Ganggu ya?”
“Ngga kok.”
“Eh kok suaramu aneh, abis nangis ya?”
Aku hanya diam.
“Halo.. Alika kamu masih disana kan? Aku cuma mau ngajak kamu pergi ke kebaktian KKR besok malam. Gimana kamu mau ikut?”
“Iya do, aku masih disini. Aku sih mau ajah tapi kan aku nggak punya kendaraan do.”
“Ya sudah gampanglah nanti aku jemput.”
“Oke deh, makasih ya do.. udah dulu yah. Selamat malam.”
Aku menutup telepon dari Aldo.
Esoknya sekitar jam 8 malam Aldo menjemputku dengan Vixion hitamnya. Dia terlihat semakin gagah dan manis bagiku. Aku pergi bersamanya. Di kebaktian KKR dibahas tentang cara mengasihi orang lain, termasuk orang-orang yang melukai kita. Lebih dari itu kita juga harus mendoakannya supaya mereka bisa berubah. Kata-kata dalam kebaktian KKR malam ini membuatku sadar bahwa tak ada gunanya membenci bu Tira, ibu kandungku.
Di perjalanan pulang tiba-tiba hujan turun,terpaksa aku dan Aldo berteduh di emperan toko yang sudah tutup. Aldo memakaikan jaketnya padaku agar aku tidak kedinginan. Setelah hujan berhenti kami melanjutkan perjalanan. Malam ini sangat berkesan bagiku, rasanya ingin ku hentikan waktu yang tetap berjalan ini.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan kini tidak terasa sudah 5 bulan aku tak bertemu dengan bu Tira. Sebenarnya aku ingin sekali mencarii alamatnya, tapi aku tidak memiliki petunjuk sedikitpun. Tiba-tiba aku ingat bahwa 3 hari lagi Aldo ulang tahun yang ke-19.
“Aku harus kasih kejutan buat Aldo. Tapi apa yah?”
Terlintas dipikiranku untuk membeli kue di toko Strawberry Cake yang ada di belakang kampus. Aku langsung menuju toko yang baru buka sekitar 2 bulan yang lalu itu. Ternyata di dalam toko itu ada bu Tira, kucoba untuk beranikan diri untuk masuk dan memesan kue.
“Alika..” bu Tira memanggilku.
Spontan aku memeluknya dan berkata, “Ibu maafkan aku. Kemarin aku sudah meninggalkan ibu. Aku menyesal bu.”
“Iya nak, ibu mengerti. Justru ibu yang mau minta maaf padamu.”
Di toko kue, aku berbincang cukup lama dengan ibuku. Ia menceritakan alasannya dulu meninggalkanku. Ternyata toko kue itu adalah miliknya, aku juga menjelaskan maksudku datang kesini. Dan ibu bersdia membantuku mewujudkan rencanaku.
Hari yang ditunggupun tiba, sedari pagi aku sengaja mengacuhkan Aldo. Aku hanya menyuruhnya datang ke toko milik ibu nanti jam 8 malam. Setelah menunggu sekitar 20 menit, akhirnya Aldo datang juga. Aku bersembunyi dan sengaja mematikan lampu untuk member kejutan padanya. Sambil membawa kue, aku menyanyikan lagu Happy Birthday. Aldo sangat terkejut dan langsung memelukku.
Tak kusangka malam itu juga Aldo menyatakan cintanya padaku dan malam ini juga aku jadian dengannya. Aku senang sekali, tak lupa aku mengenalkan Aldo kepada bu Tira, ibuku. Akhirnya sejak hari ini aku tiidak akan kesepian lagi karena aku sudah memiliki ibu dan Aldo.
Terimakasih Tuhan...


Komentar
Posting Komentar